Mama-Mama Perajut Noken Papua Kini Lirik Jualan Online

By November 24, 2017Asiki News

Rajutan sepatu dari akar pohon dibanderol Rp 1,5 juta

 

Liputan6.com, Jayapura – Tangan dan paha Christina Degey (25) memerah. Seutas akar dari pohon kulit Manduam terus digulung dengan tangannya di pahanya. Terus-terusan kulit Pohon Manduam itu digulung hingga menjadi benang. Benang itu kemudian dianyam menjadi noken, sebuah tas asli masyarakat Papua.

Tak mudah membuat noken. Untuk noken ukuran kecil, bisa memakan waktu hingga dua mingguan. Apalagi, membuat noken besar yang biasa digunakan mama asli Papua untuk mengangkut hasil kebunnya ke pasar. Waktunya bisa berbulan-bulan.

Proses pembuatan noken yang paling memakan waktu adalah saat membuat akar pohon atau kulit kayu menjadi sebuah benang. Dibutuhkan waktu hingga berminggu-minggu lamanya. Sampai sekarang, alat pemintal kulit kayu atau akar pohon untuk dijadikan benang belum ada.

“Sa (saya) pu (punya) tangan dan paha su (sudah) biasa. Sakit dan pedih awalnya, tapi sekarang sudah biasa,” kata Mama Christina, ketika ditemui Liputan6.com belum lama ini di Gedung Dewan Kesenian Papua.

Demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, Mama Christina melakukan pekerjaan itu seluruhnya. Ia memintal akar atau kulit pohon menjadi benang, lalu merajut benang menjadi noken, dan menjual nokennya di pasar atau trotoar jalan yang ada di Kota Jayapura.

Saat ini, bukan hanya noken yang dibuat dari kulit kayu atau akar pohon, tapi sudah berkembang hingga baju, sepatu, bahkan aksesoris lainnya. Harga jualnya pun beragam, mulai dari harga Rp 50 ribu hingga jutaan rupiah.

Mama Christina bercerita, saat ini dirinya juga sedang mengerjakan pesanan sepatu kulit kayu dari salah satu kabupaten di Pegunungan Tengah Papua. Harga sepatu dari akar pohon itu dibanderol dengan harga Rp 1,5 juta.

“Membuat noken atau sepatu dan barang lainnya dari akar pohon atau kulit kayu harus perlahan dan sabar, butuh konsentrasi,” kata ibu dari dua orang putri ini.

 

Sumber : Liputan 6

Leave a Reply